Wednesday, May 18, 2011

AMIKOM & ASM Mataram ; Kampus Kecil Dengan Masalah Yang Besar


Tak seperti ukuran kampusnya yang kecil, dibalik rapi dan sopannya seragam yang dikenakan mahasiswanya, tersembunyi persoalan yang sangat besar.



Biaya pendidikan mahal, fasilitas minim
Jika berbicara tentang kampus AMIKOM-ASM Mataram, dibalik kerapian dan sopannya seragam yang dikenakan mahasiswanya, tersembunyi segudang persoalan, mulai dari mahalnya biaya pendidikan, maraknya praktek pungutan liar, fasilitas yang sangat minim, tidak adanya transparansi anggaran, dosen yang tidak sesuai dengan kualifikasinya dan jarang masuk mengajar, tidak adanya jaminan kebebasan berorganisasi, sampai pada tidak adanya kejelasan status kampusnya.

Saat ini, biaya pendidikan di kampus AMIKOM-ASM Mataram telah mencapai Rp 1.680.000,- (angkatan 2008/2009), jumlah ini tergolong yang paling mahal di NTB. Disamping SPP yang sangat mahal, mahasiswa terus saja dibebankan dengan berbagai pungutan lainnya, misalnya denda keterlambatan pengambilan KHS/KRS sebesar Rp 20 ribu, pengadaan diktat sebesar Rp 75 ribu, dan biaya ujian KKPI sebesar Rp 50 ribu yang dijanjikan mendapatkan sertifikat nasional, akan tetapi hingga saat ini mahasiswa yang mengikuti ujian tersebut belum mendapatkan sertifikat.

Mahalnya biaya pendidikan, tidak diimbangi dengan fasilitas yang layak dan memadai. Dengan jumah mahasiswa yang lebih dari 1000 orang, kampus AMIKOM-ASM Mataram hanya memiliki 6 ruangan kelas, inilah yang menyebabkan jadwal kuliahnya berlangsung hingga jam 21.00. Demikian pula dengan fasilitas praktek yang dimiliki (khususnya lab komputer) yang sangat tidak sebanding dengan jumlah mahasiswa, bahkan kebanyakannya dalam keadaan rusak.

Ironisnya, disaat mahasiswa kekurangan fasilitas, Direktur AMIKOM-ASM Mataram justeru menyediakan fasilitas kampus sebagai layanan bisnis. Lihat saja warung internet yang dapat diakses oleh masyarakat umum selama 24 jam, sementara mahasiswanya sendiri tidak merasakan manfaat apa-apa, minimal mahasiswa AMIKOM-ASM Mataram dapat mengakses internet dengan harga yang lebih murah dari harga yang berlaku untuk masyarakat umum. Begitu juga ketika diselenggarakannya pelatihan komputer bagi Kepolisian Daerah NTB, Direktur AMIKOM-ASM Mataram lebih memilih meliburkan ujian semester yang sedang berlangsung. Sementara itu, mahasiswa tidak pernah mengetahui berapa keuntungan dari layananan bisnis yang diselenggarakan tersebut dan seberapa besar peruntukkannya bagi kepentingan mahasiswa. Baru setelah beberapa kali aksi yang digelar, dalam dialog terbuka yang dilaksanakan pada 24 Januari 2009, Di rektur AMIKOM-ASM Mataram menyepakati memberlakukan tarif internet seharga Rp 2.000,-/jam bagi mahasiswa AMIKOM-ASM Mataram. Akan tetapi ini harus tetap di cek kebenarannya.

Ketika mahasiswa menuntut pengadaan fasilitas yang layak, Direktur AMIKOM-ASM Mataram selalu memberikan jawaban yang sangat klise dan klasik, bahwa SPP/biaya pendidikan yang dibayarkan mahasiswa, sangatlah tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan kampus. Sehingga ketika mahasiswa menuntut pengadaan fasilitas yang layak, Direktur AMIKOM-ASM Mataram selalu menjawabnya dengan syarat kenaikan SPP/biaya pendidikan. Akan tetapi, Direktur AMIKOM-ASM Mataram sendiri tidak pernah menjelaskan secara ilmiah terkait dengan ketersediaan anggaran. Dengan kata lain, Direktur kampus AMIKOM-ASM Mataram, tidak pernah transparan dalam pengelolaan anggaran.

Sementara itu, Direktur AMIKOM-ASM Mataram selalu mengaburkan tuntutan mahasiswa tentang fasilitas layak dengan janji gedung baru yang belum jelas kabarnya. Yang harus disadari adalah, belum tentu semua mahasiswa bisa merasakan manfaat gedung baru tersebut, mengingat banyak mahasiswa yang akan segera menyelesaikan kuliahnya, sementara pembangunan kampus baru, belum kunjung usai.  Maka jika pembangunan gedung baru tersebut, sumber dana utamanya menggunakan biaya pendidikan yang dikeluarkan mahasiswa saat ini, maka Direktur AMIKOM-ASM Mataram telah memaksa mahasiswanya untuk membayar sesuatu yang tidak akan dirasakan oleh mahasiswanya.

Tingkat kesejahteraan dosen rendah, mahasiswa terabaikan.
Soal lainnya adalah tidak adanya jaminan kualitas pendidikan yang didukung oleh kualitas tenaga pendidikannya. Dalam pasal 46 Undang-Undang No 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen, ditegaskan bahwa kualifikasi dosen untuk program Diploma atau Sarjana adalah minimal Magister (S2). Sementara di kampus AMIKOM-ASM Mataram, beberapa mahasiswa semester III dan semester V sudah harus mengajar karena tidak sebandingnya jumlah mahasiswa dengan dosen.

Demikian halnya dengan jumlah dosen tetap yang harusnya lebih banyak dari jumlah dosen luar biasa, dan dosen tamu. Kenyataan di AMIKOM-ASM Mataram, banyak sekali nama-nama dosen tetap yang hanya menjadi pajangan atau tidak pernah masuk mengajar. Hal ini sangat berhubungan dengan rendahnya tingkat kesejahteraan dosen/karyawan pendidikan di kampus AMIKOM-ASM Mataram. Banyak dosen yang memilih keluar/mengundurkan diri karena tidak ada jaminan kesejahteraan baginya di kampus AMIKOM-ASM Mataram.

Status hukum yang tidak jelas
Persoalan di kampus AMIKOM-ASM Mataram semakin diperparah dengan tidak adanya kepastian hukum dari status kampusnya terkait dengan ijin operasional dan status akreditasinya. Misalnya saja status ijin operasional Program Studi Teknik Komputer yang berdasarkan surat Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi No. 1050/D/T/2006, berada dalam status restatus sejak 27 Oktober 2008 dan akan berakhir pada 27 Maret 2009. Artinya bahwa, dalam rentan waktu 27 Oktober 2008 hingga 27 Maret 2009, Direktur AMIKOM-ASM Mataram berkewajiban untuk memperpanjang ijin operasional sebelum masa berlakunya berakhir.

Demikian halnya dengan seluruh jurusan di ASM Mataram, jika mengacu pada data di website DIKTI per 31 Desember 2008, seluruh jurusan di ASM Mataram telah berakhir ijin operasionalnya sejak tahun 2005 dan hingga sekarang belum ada keterangan adanya perpanjangan ijin operasional.

Seperti yang diketahui, saat ini banyak sekali kasus pembubaran jurusan karena tidak memiliki ijin operasional, misalnya kasus pembubaran 3 jurusan (PGTK, Pendidikan Bahasa Jerman, dan Pendidikan Seni  Rupa) di IKIP Mataram yang terjadi pada awal April 2007. Demikian halnya dengan Jurusan Fisika FPMIPA IKIP Mataram yang ijin operasionalnya telah berakhir sejak 12 April 2008 dan hingga saat ini belum ada perpanjangan ijin operasional yang dilakukan oleh birokrasi kampus IKIP Mataram.

Sementara, ijin operasional kampus sangat penting sebagai jaminan atas diakuinya status hukum bagi lembaga dan mahasiswanya. Seseorang dapat diakui sah sebagai mahasiswa jika kampusnya pun memiliki kepastian hukum. Dengan demikian, ada kepastian hukum terhadap pemenuhan hak-hak mahasiswa sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku. Demikian halnya dengan status akreditasi kampus yang sangat penting sebagai jaminan masa depan mahasiswa. Status akreditasi kampus menjadi syarat formal untuk mendapatkan lapangan pekerjaan yang layak. Karena status akreditasi kampus merupakan ukuran normatif terhadap kualitas pendidikan di kampus tersebut.

Perjuangan menunutut kejelasan status kampus, sudah dilakukan mahasiswa AMIKOM-ASM Mataram sejak awal Mei 2008. Dalam forum dialog antara mahasiswa dan birokrasi kampus (6/5/08, red), Direktur AMIKOM-ASM Mataram menjanjikan akan memberikan kejelasan status kampus dalam waktu 3 bulan. Akan tetapi hampir 10 bulan sudah, kejelasan status itu belum kunjung datang. Bahkan dalam dialog yang kembali digelar pada tanggal 24 Januari 2009, Direktur AMIKOM-ASM Mataram kembali mengulur waktu untuk memberikan kepastian tentang ijin operasional kampus, tanpa penjelasan yang ilmiah.

Sementara, persoalan ijin operasional dan status akreditasi bukanlah persoalan yang berdiri sendiri, melainkan memiliki syarat-syarat yang harus dipenuhi. Misalnya perbandingan antara jumlah  mahasiswa dengan fasilitas kampus, kualitas dari  fasilitas tersebut, perbandingan antara jumlah mahasiswa dengan tenaga pengajarnya, tingkat kualifikasi tenaga pengajarnya, dan berbagai syarat lainnya sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.

Tidak adanya jaminan kebebasan berorganisasi dan berekspresi.
Banyaknya persoalan di kampus AMIKOM-ASM Mataram, tent u menimbulkan ekspresi putus asa, sedih, dan marah dari mahasiswanya. Keinginan untuk berkeluh kesah semakin pupus akibat tidak adanya organisasi sebagai alat memperjuangkan hak-hak dasarnya. Hal ini dikarenakan hingga saat ini tidak ada satupun organisasi kemahasiswaan di kampus AMIKOM-ASM Mataram, termasuk BEM dan DPM, apalagi unit-unit kegiatan penyaluran bakat dan sebagainya.

Padahal dalam brosur propaganda yang diterbitkan setiap penerimaan mahasiswa baru, birokrasi mengatakan bahwa kampus AMIKOM-ASM Mataram memiliki organisasi BEM dan DPM. Sementara, kebebasan berorganisasi dan berekspresi merupakan salah satu hak dasar rakyat yang dijamin oleh Negara sebagaimana yang diatur dalam pasal 28 Undang-Undang Dasar 1945 sebagai sumber dari segala sumber hukum yang berlaku di Indonesia. Dengan kata lain, Direktur AMIKOM-ASM Mataram telah melakukan pelanggaran terhadap konstitusi.

Hak untuk berorganisasi dan berekspresi telah dituntut mahasiswa AMIKOM-ASM Mataram sejak awal Mei 2008. Saat itu Direktur AMIKOM-ASM Mataram mengijinkan mahasiswa untuk membentuk organisasi BEM dan DPM. Akan tetapi sudah 10 bulan berjalan, Direktur AMIKOM-ASM Mataram selalu menghambat pembentukan BEM dan DPM dengan alasan yang sangat tidak ilmiah. Bahkan, Direktur AMIKOM-ASM Mataram selalu menunjukkan sikap yang reaktif dalam menjawab tuntutan  perjuangan mahasiswa. Misalnya saja seperti yang dialami oleh mahasiswa yang menggelar aksi pada 14 Januari 2009 yang dipanggil secara berganti-gantian oleh Direktur AMIKOM-ASM Mataram dan diberikan pilihan untuk menandatangani tiga jenis surat yang isinya adalah surat pernyataan pindah kuliah, surat pernyataan mengundurkan diri, dan surat pernyataan tetap kuliah dengan syarat mematuhi segala kebijakan yang ditetapkan Direktur AMIKOM-ASM Mataram.

Selain itu, mahasiswa yang menggelar aksi tersebut, diwajibkan melapor setiap harinya ke Direktur AMIKOM-ASM Mataram, selama waktu satu minggu. Hal ini dilakukan agar mahasiswa tidak menggelar aksi lagi. Hal ini menunjukkan watak asli dari Direktur AMIKOM-ASM Mataram yang anti demokrasi dan anti mahasiswa.

Banyaknya persoalan diatas memberikan kesimpulan bagi kita, bahwa kampus tidak lagi menjadi lembaga yang ilmiah dan demokratis, melainkan sebatas menjadi ajang bisnis bagi pemiliknya untuk mendapatkan keuntungan yang sangat besar dengan terus memeras mahasiswa. Maka adalah tugas penting bagi mahasiswa untuk bersatu dan menggelorakan perjuangan massa, menuntut hak-haknya.

Jayalah perjuangan massa  !

(Tulisan ini sudah dimuat di Bulletin Sebar Demokrasi edisi Februari 2009)

26 comments:

kasian Bangetnya amikom dulu,,,,
V sekarang udah beda kok...

slam sejahtera di SOERIAN, smoga amikom menjadi lebih baek di tahun yang akan datang yaitu 2013 dan strusnya

www.soerianciber.blogspot.com

amikom tidak akan perna baik selama direkturnya darmawan bakti saya adalah salah satu mantan dosen yang tau persis permasalahan yg ada diamikom, untuk nama dosen yang dipampang dan dosen nya tidak pernah ngajar silahkan cek dilink ini : http://evaluasi.dikti.go.id/epsbed/daftardos/084022/57401

dan masih banyak lagi masalahnya,masalah ijin,mulai tahun 1999 sampe skrg banyak masalah dibalik manipulasi akreditasi nya sekarang saya sangat tau masalahnya itu hanya penipuan agar bisa lolos dari aturan pemerintah yang mewajibkan kampus harus akreditasi mulai 2014, tapi sayang mahasiswanya tidak pernah tau itu.

wooww... manipulasi akreditasi????? yang bener.... ntar pencemaran nama baik loh....
ada datanya gak???

This comment has been removed by the author.

saya berani bilang karena saya punya data lengkap

salah satu sumber datanya tuh kan ada link saya kasih silahkan dicek

Yang Punya Blog.....Orang-Orang Paling Bobrok Se NTB.....gak punya otak........paling isinya tai ayam

i think this news not yet clear, i don't know this news fact or fantasy...
if this news is true, i am praying... someday they will get a punishment from god...amin

Selamat dan Sukses terus untuk AMIKOM MATARAM yang telah terakreditasi BAN-PT.Program Studi
Untuk Bapak Ir. Lalu Darmawan Bakti sebagai Direktur ,teruskan perjuangan bapa ..apa yang menjadi visi misi P.Tinggi yaitu mencerdaskan anak bangsa Indonesia walaupun penuh rintangan dan cobaan. Selalu dalam Doa. Amin.

tadinya niat mw daftar D3 d amikom, tapi kok gitu yach.......

apa amikom itu seperti cerita diatas yea? benar ap tdk/

wah ini pencemaran nama baik amikom,, Haris Samawa, anda tidak punya bukti yang konkrit, link diatas hanyalah spam kosong, jadi masalah ini bisa dibawa ke pihak yg berwajib,, !! jangan cuma bisa ngumbar fitnah, coba anda masih di amikom, apa anda masih mau berkata seperti ini, anda berkata seperti ini karna anda sudah keluar,, itu namanya pecundang dan pengecut .. !!! pendidikan indonesia tidak akan maju kalau masih banyak pengecut seperti anda Haris Samawa,,

wahhh pencemaran nama baikk tuuhhh,,
yg punyakk blog maho kli yaa

kasian banget amikom tadinya gue mau daftar tapi sekarang nggak....!!!
di bumigora aja deh gue kuliahnya

menurut saya itu adalah pengalaman mahasiswa amikom yang ingin sekali menuntut ilmu tapi yang di dapat apah kosong,mahal,nggak di ajar cih

gk baik mencemarkan orang atau sekelompok orang ( organisaasi),.,., menghasut orang lain,., solusinya,.,. kenapa anda tidak bilang langsung saja,.,., ala sistem apapun yang di ciptakan dan di gunakan manusia,., tetap saja selalu ada kelemahannya,.,., dan untuk itu kita menjadi kaca untuk merapikan ketidak nyamannan itu,.., ok,.,., hati yang lapang,., jiwa dan akal yang sehat,.,., Peace :) :D :p

sy adalah alumni amikom mataram. bahwa benar pak haris adalah dosen amikom, pak haris orang yg baik. sy jg sangat kecewa dengan system belajar/ngajar amikom meskipun sekarang saya udah kerja.. dosen yg baik dan cerdas dibuang ibarat sampah gk ada artinya.. sedangkan yg busuk selalu dipelihara kyk pak MNA..begitupun direkturnya yg membedakan yg pintar dengan yg kurang pemikiranya,, masalah akriditasi amikom mataram ,sih udah.. salam buat pak minal yg busuk.. ini untuk kampus mataram bukan yg ada di taliwang lotim

Awanya sih, aku mau kuliah di AMIKOM, tapi setelh membaca Pastingan ini.
Pindah Niat aja dah ke Kampus Lain. :P

gue gak jd dah kuliah d amikom asm mataram

sekarang amikom udah bagus kok , fasilitasnya juga gtu , full ac , dosennya juga rajin . malah selalu ada dosen . cara ngajar dosennya juga aku suka . itu sih menurut aku . aku mahasiswa amikom semester 3 , terimakasih

Numpang nimbrung nieh....sy jg termasuk alumni amikom angkatan 2009,sebenernya ada baik dan buruknya amikom,baiknya sy dpt kerja karna keahlian computer berkat amikom,wlopun kbanyakan teori trus buruknya soal hubungan antara mahasiswa dan dosen ato mahasiswa dgn direkturnya,apa lg direkturnya kurang mau menerima opini dr mahasiswa,egoisnya tinggi,pemarah,ga pernah dukung adanya organisasi apapun apa lg yg namanya BEM,yah mgkin ga tau knapa. Tp biarpun gtu kampus amikom ttp jd tmpat sy menuntut ilmu,........saran sy untuk pihak amikom ;
1.biarkan mahasiswanya bebas berekspresi tp masih dikoridor kampus,yg pasti positif u/kampus.
2.tentukan para dosenya mengajar sesuai bidangnya masing2' dan dosen itu minimal S2,bukan D3.
3.untuk direkturnya agar lbh tegas terhadap semua dosen tampa terkecuali,yg malas pecat aja,mereka dibayar untuk mengajar.
5.usahakan dosen2 itu seperti IBU DWI' ramah,baik,bukan pemarah,mau mendengarkan mahasiswanya....sukses u/buk Dwi.hehehe

Sukses Buat AMIKOM MATARAM trus maju dan bisa menciptakan wisudawan/ti yg terbaik dan berpotensi.......

peace!

Transparansi nilai itu penting untuk para dosen amikom agar mahasiswa jg tau system penilaian dan kalkulasi nilai di kampusnya......jgn ngelak dan pura2 ga tau ktika mahasiswanya bertanya knapa nilai sy E???????? yah sedikit lbh profesional lah...karna kami mahasiswa mematuhi peraturan dan kmauan kampus,dan kami jg sudah bayar mahal untuk itu. Jgn blagu jd dosen....kan pernah jd mahasiswa jg.... Kbanyakan dosen2 amikom banyak yg sensitif....!

Post a Comment